Kamis, 26 Februari 2015

MENANTIKAN KEBANGKITAN KEMBALI CERITA SILAT (CERSIL/TJERSIL)



MENGENAL CERITA SILAT (Tjerita Silat/Tjersil)

Mungkin banyak dari generasi muda sekarang ini yang tidak mengenal Cerita Silat (Cersil) dalam bentuk  aslinya. Bahkan ada yang belum pernah mendengarnya sama sekali. Namun, pada masanya dulu, Cerita silat pernah mengalami masa kejayaannya.

Cerita Silat merupakan sebuah fenomena yang unik dalam sejarah sastra Indonesia. Unik, menarik, penuh dengan unsur-unsur perjuangan, dan romantisme kisah hidup tokoh-tokohnya, sehingga sangat digemari di Tanah Air kita ini.

Cerita silat di Indonesia merupakan genre novel cerita bersambung yang dulu sangat digemari dan ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para pembaca. Para pengarangnya sangat cerdas dalam menghadirkan cerita yang menarik dan mendidik. Banyak filosofi tentang kepahlawanan, perjuangan hidup, dan kegigihan dalam membela kebenaran dan keadilan.


Karena unsur-unsur tersebut, maka cerita silat dapat dianggap sebagai sastra yang sangat bermanfaat dan patut dilestarikan, karena dapat menanamkan jiwa kepahlawanan, membentuk karakter berartabat, dan kegigihan dalam menghadapi perjuangan hidup bagi para pembacanya.

Bahkan banyak juga para tokoh di negeri ini yang mengakui bahwa keberhasilannya dalam bisnis, kehidupan dan bahkan terjun ke dalam dunia politik berbekal filosofi dari kisah-kisah cerita silat yang pernah dibacanya sewaktu masih muda dahulu.

BERBEKAL KHO PING HO, BERLAGA DI SENAYAN

Ada seorang tokoh politik di Indonesia yang sangat terkenal, yang mengakui dalam sebuah majalah, bahwa ia sangat terkesan dengan kisah sebuah cerita silat karya Asmaraman Kho Ping Ho, dimana Cerita silat tersebut menggambarkan tentang bagaimana kegigihan dan kesungguhan seorang murid perguruan silat yang mempelajari sebuah jurus dari Suhunya.

Dengan kegigihan dan kesungguhan, akhirnya sang murid berhasil mempelajari jurus yang hebat sehingga dapat menumpas angkara murka. Sehebat apa pun angkara murka itu. Cerita ini sangat membekas dan tak terlupakan sampai sekarang, ketika ia terjun ke politik dan berlaga di Senayan.


ASAL-USUL CERITA SILAT

Akar kata Cerita Silat berasal dari kata “wuxia” dalam bahasa Mandarin. Karakter pertama yaitu “wu” merupakan sebuah kata yang memiliki arti ilmu militer, kemampuan silat, atau ilmu perang.

Karakter kedua “xia” memiliki pengertian tentang seorang yang jujur, menepati kata-katanya, efektif dalam bertindak, teguh pendiriannya, dan rela berkorban untuk menegakkan sebuah kebenaran.

Dengan demikian kata “wuxia” dapat diartikan sebagai “pendekar persilatan” atau “kisah-kisah kepahlawanan.”

MASA KEJAYAAN CERITA SILAT

Gelombang cerita silat melanda seluruh kawasan Asia dimulai oleh dua orang penulis cerita silat yaitu Liang Yu Sheng dan Jin Yong dari Hongkong pada pertengahan tahun 1950-an.

Dari tangan Liang Yu Sheng lahir banyak Cerita Silat yang sangat populer dan terkenal diantaranya seperti:
·         “The Legend Of Dragon and Snake (1954),
·         The Return Of The Sword (1959),
·         Seven Sword From Heaven Mountain (1956), dll

Dari tangan Jin Yong lahir banyak cerita silat yang sukses juga dipasaran. Beberapa yang sangat terkenal diantaranya adalah:
·         “Legend Of The Condor Heroes (Pendekar Pemanah Rajawali, 1957),
·          Flying Fox Of The Snowy Mountain (Rase Terbang Gunung Salju, 1959),
·         Return Of The Condor Heroes (Kembalinya Pendekar Rajawali,1959),
·         Heaven Sword and Dragon Sabre (Pedang Langit dan Golok Naga, 1960), dll

Setelah Liang Yu Sheng dan Jin Yong berhenti menulis cerita silat, giliran Gu Long maju ke depan menghadirkan karya-karya yang dapat menghibur para pembaca. Beberapa judul cerita silat karya Gu Long yang sangat terkenal diantaranya: “Pendekar Empat Alis, Pendekar Harum, Si Pisau Terbang, dll.”

GELOMBANG CERITA SILAT JUGA MELANDA INDONESIA

Seiring dengan mewabahnya cerita silat terjemahan dari luar tersebut, di Indonesia sendiri memiliki seorang penulis cerita silat yang bernama Asmaraman S Kho Ping Ho. Kho Ping Ho mulai menulis cerita silat pada tahun 1952. Cersil perdananya dimuat di majalah terbesar di Indonesia saat itu, Star Weekly.

Kho Ping Ho menulis cerita silat di dasarkan pada pemahamannya akan dunia persilatan yang dikenalnya dari silat keluarga yang diwariskan Ayahnya sejak ia kecil.

Karya Asmaraman Kho Ping Ho yang sangat terkenal diantaranya:
·         “Serial Bu Kek Siansu” terdiri dari 17 judul, mulai dari Bu Kek Siansu hingga Pusaka Pulau Es. Setiap judul terdiri dari 18 sd 62 jilid buku. Dalam serial ini juga terdapat judul Pendekar Super Sakti yang menjadi karyanya yang paling populer.

Selain judul-judul di atas, ada banyak karyanya yang juga sangat populer, diantaranya:
·         “Pedang Kayu Harum, Pendekar Budiman”, dll.

Kemudian ada juga kisahnya yang berlatar Jawa seperti:
·         “Darah Mengalir di Borobudur”,  
·         “Badai Laut Selatan.”
·         “Garuda Putih”, dll

Karya-karya Kho Ping Ho memang unik, karena menggunakan alur/struktur cerita silat (wuxia) dengan setting tanah Jawa dan karakter tokoh-tokohnya yang juga dari Nusantara. Ini merupakan hal khusus yang perlu dicatat dalam sejarah sastra Indonesia.

Selama 30 tahun berkarya, Kho Ping Ho telah menghasilkan lebih dari seratus judul buku. Bayangkan betapa produktifnya Kho Ping Ho dalam menulis Cerita Silat.

PASANG SURUT CERITA SILAT

Tidak ada pesta yang tak usai, begitu juga dengan kejayaan cerita silat (cersil) di Indonesia dan juga dunia. Pada pertengahan tahun 1980-an, perlahan-lahan cerita silat mulai mengalami kemunduran, surut, dan akhirnya menghilang pada tahun 1990-an.

Cerita silat dalam bentuk buku, mulai digantikan dengan cerita dan media lain seperti Komik grafis, video, dan film-film bioskop yang lebih kaya visualisasi.

KEBANGKITAN KEMBALI CERITA SILAT

Masalah serbuan media lain seperti televisi, video, VCD, DVD dan internet yang menggeser karya sastra tertulis, sebenarnya dialami juga oleh semua negara di dunia termasuk di Hongkong, Taiwan, Singapura,  dan China daratan, namun cerita silat masih tetap berusaha bertahan dan bangkit kembali.  Banyak cerita-cerita silat yang kembali berjaya dan diangkat ke layar lebar, diantaranya:
·         Crouching Tiger Hidden Dragon,
·         Hero,
·         Curse Of The Golden Flower, dan
·         Film Kungfu semacam Ip Man, dll

Bahkan di Indonesia pun sudah mulai ada upaya untuk membangkitkan kembali kejayaan cerita silat. Hal ini ditandai dengan lahirnya komunitas-komunitas, baik online maupun kopi darat dari para penggemarnya.

Sekarang ada juga kecenderungan orang menyimpan Cersil sebagai sesuatu barang yang bergengsi, sebagai status symbol, dan bahkan beberapa orang bersedia mengeluarkan kocek yang cukup besar untuk mengejar barang-barang “langka” ini.

BELAJAR DARI CERSIL UNTUK MENGUBAH HIDUP

Dewasa ini banyak juga para pendidik, pengajar, motivator dan penulis buku pengembangan diri yang menggunakan metafora cerita silat sebagai acuan untuk melakukan transformasi diri, mengubah diri dari lemah tak berdaya menjadi kuat didaya, dari miskin menjadi kaya, dari gagal menjadi sukses, dari kekalahan menjadi kemenangan, dll.

Seperti kata Jansen Sinamo dalam bukunya 8 ETHOS, dari kisah-kisah cersil ini, kita dapat menemukan satu lagi ajaran kesuksesan: “Keberhasilan tidak pernah datang dengan sendirinya, orang senantiasa dituntut bekerja keras penuh semangatuntuk mengembangkan potensi-potensi yang terkandung dalam dirinya.”

Semoga saja Cerita Silat (Cersil/Tjersil) dapat segera BANGKIT kembali dan memperkaya wawasan, keilmuan, dan karakter para pembaca di Tanah Air.

*sumber:
·         Majalah Rimba Hijau, tahun I, edisi 03, Nopember-Desember 2004
·         Majalah Psikologi Empathy, No.06, Januari-Februari 2005
·         Cersil Bukan Bacaan Jadul, Chen Wei An, Ariesta Steleyna Offset, 2007

·         8 Ethos kerja profesional, Jansen H. Sinamo, Institut Darma Mahardika, Jakarta, Cetakan kelima, Oktober 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search